Tuesday, December 26, 2017

Kembali ke Jepang: Life at Nomi

Tak terasa, sudah tiga tahun saya meninggalkan Jepang, tepatnya 3 tahun 3 bulan. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya kembali ke Jepang melalui MEXT. Melalui seorang teman, saya mendapat informasi tentang beasiswa MEXT, kemudian saya apply beasiswa tsb, wawancara dan alhamdulillah diterima. Saat bekerja di Jepang dulu, saya sudah beberapa kali apply beasiswa dan gagal. Saya sendiri bisa ke Jepang saat itu dengan beasiswa Jasso, kemudian bekerja di sebuah perusahaan Jepang di Mie-ken. Pelajaran yang bisa diambil, jangan takut untuk mencoba. Puluhan kali saya mencoba mendaftar beasiswa (Jepang) sejak S1, kemudian setelah lulus S2, kemudian setelah jadi PNS, akhirnya berbuah. Sebelumnya saya diinstruksikan untuk mendaftar beasiswa ke Eropa, namun hati kecil saya ingin kembali je Jepang, lingkungan dimana saya sudah terbiasa. Dan Tuhanpun mengabulkannya, Aamiin.

Saya masih ingat email terakhir dari calon supervisor yang mereject aplikasi saya, beliau menulis: "Have a colorful life in Japan", dan alhamdulillah, insyaAllah menjadi kenyataan.


Kembali ke Jepang

Proses kembali ke Jepang agak tidak mudah secara praktek, namun mudah secara administrasi karena tiket saya dihandle oleh MEXT. Saya dibelikan tiket Surabaya-Haneda-Komatsu dengan Garuda, ANA dan ANA. Karena melebihi anggaran transport MEXT, tiket Haneda-Komatsu perlu saya ganti dengan uang saya setelah sampai di Jepang. Sejak di Surabaya, saya sudah diberi tiket langsung ke Komatsu oleh pihak Garuda. Katanya nanti di terminal tiga saya tidak perlu pindah terminal dan bagasi saya juga langsung nyampai ke Komatsu. Namun saya agak curiga, bagaimana bisa sesederhana ini. Nyatanya memang tidak mudah, di terminal 3 Soetta saya perlu pindah ke terminal 2, padahal di terminal 3 juga ada penerbangan ANA ke Haneda. Jika anda bepergian dengan mode seperti ini (direct flight), cek kembali nomor penerbangan. Saya berangkat Oktober 2017, saat itu skytrain baru beroperasi, namun saya memilih memakai bis karena sudah terbiasa.

Masalah kembali ada ketika sampai di Haneda. Antrian imigrasi sangat panjang, padahal saya hanya punya waktu dua jam untuk transit. Alhasil, saya langsung menghubungi staff bandara, dan diantar langsung ke counter imigrasi (memotong antrian). Inilah hebatnya Jepang, selalu ada jalan keluar.

Setelah keluar dari imigrasi, saya menemui staff ANA, koper saya juga telah menunggu, padahal katanya langsung ke Komatsu. Saya masih perlu check in lagi di counter ANA dan naik bis ke terminal domestik. Di Haneda, terminal domestik dan internasional terpisah cukup jauh (tidak bisa diakses dengan jalan kaki). Staff ANA mengantar saya sampai saya naik bis shuttle, subhanallah baiknya. Dia membungkuk saat bis berangkat.

Finally, saya sampai di Komatsu. Teman saya saat S1 sudah menunggu, memesankan tiket bus ke Komatsu Eki, dan bis Shuttle ke JAIST. Welcome back to Japan, Gus!


Hidup di Nomi
Nomi (能美市) adalah kota kecil, merger dari tiga kota pada tahun 2005:  Neagari, Tatsunokuchi dan Terai (semuanya adalah bagian dari distrik Nomi) di Ishikawa-ken (石川県). Setelah Kumamoto dan Kameyama, ini adalah kota ketiga dimana saya hidup di Jepang.

Sebulan saya hidup di Nomi, beberapa tempat telah saya jelajahi: Tsurugi, Shishiku, Shirayama-hime,  Ishikawa zoo dan Kanazawa jo. Ini adalah kota kecil dengan lingkungan yang asri. Ishikawa ken terkenal akan pegunungannnya. Kanazawa merupakan capital dari Ishikawa ken yang dapat dijangkau dengan kereta listrik selama 40 menit. Kesanalah saya melepas penat tiap bulannya. Namun kali ini, dua course (aka: jalan-jalan sehat) saya ceritakan: zoo dan shishiku.


First course: JAIST - Ishikawa Zoo - City Hall - JAIST

JAIST menyediakan shuttle bus yang berangkat hampir tiap 40 menit interval. Nomi bus juga melewati bus stop di JAIST dengan interval waktu yang lebih lama. Sekali lagi karena kota kecil, jalan kaki menjadi pilihan karena keterbatasan transportasi umum dan didukung iklim pegunungan yang sejuk. Naasnya saya mengambil rute yang salah. Alih-alih kembali ke JAIST, saya malah nyasar sampai Ishikawa zoo. Sebenarnya saya sudah tahu nyasar di tengah perjalanan. Saya bertanya pada bapak petugas rumah sampah Nomi tentang rute ke JAIST, beliau memberitahu saya untuk kembali ke jalan dimana saya datang. Namun saya mengambil arah sebaliknya karena saya masih berharap bertemu rute yang saya harapkan (garis merah). Alhasil, saya berjalan dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore mengelilingi kota Nomi (garis hijau). Capek.
Rute jalan kaki nyasar ke Ishikawa zoo (hijau) dari rute yang saya rencanakan (merah).

Second course: JAIST - Shirayamahime - Shishiku Highland - Tsurugi

Rute jalan kaki: JAIST-Shirayama-Hime-Shishiku Highland-Tsurugi Eki

Shishiku merupakan bukit di Tsurugi. Ishikawa-ken kaya akan pegunungan, yang paling terkenal Hakusan (白山、Si Gunung Putih), dan Shishiku merupakan bagian dari Hakusan Tedorigawa Geopark yang merupakan Taman Nasional Jepang.

Seperti terlihat pada peta di atas, rute jalan kaki ini dimulai dari jalan kecil di belakang dorm JAIST. Menyusuri jalan tersebut kita akan menjumpai hutan pinus dan akhirnya sampai pada pemukiman penduduk. Tidak seberapa jauh dari situ, kita akan menemui jalan utama yang dilalui bus Shuttle JAIST menuju Tsurugi eki. Menyusuri jalan tersebut, melewati sungai Tedori, kami belok kanan ke Arah Shirayama Hima, jika lurus akan langsung menuju Tsurugi eki.

Setelah berjalan kurang lebih dua jam, kami sampai di kuil Shirayama hime (白山比咩神社, perhatikan kanjinya: sama dengan Hakusan). Ini adalah kuil kepala dari Shirayama, ada beberapa kuil shirayama lainnya di Ishikawa-ken. Berbeda dengan kebanyakan kuil, pengunjung yang beribadah kesini hampir pasti berpakaian rapi: berjas dan berdasi. Satu yang wajib kita jaga adalah untuk tidak mengikuti cara beribadah mereka (misal: membungkuk dan semisalnya). Banyak hal yang bisa dipelajari di bangunan tua ini Jepang tanpa mengikuti cara beribadah mereka.

A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Lepas dari Shirayama Hima kita melanjutkan Shishiku Highland. Tidak jauh, sekitar 30 menit dari Shirayama-hime. Tiket masuk (cable car untuk naik) adalah 700 yen, dan kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan dari puncak Shishiku. Tempat ini merupakan tempat paralayang. Hebatnya, hampir semua yang ber-paralayang memiliki peralatan sendiri, meski disini menyediakan sekolah/course paralayang. Sekali terbang saya amati kurang lebih 30 menit. Ada diantara paralayang tersebut yang mampu mengelilingi jajaran bukit di Shishiku dengan memanfaatkan angin yang datang.

Selesai dari Shishiku kami lanjutkan jalan kaki ke Tsurugi eki, kurang dari sejam perjalanan. Dari sana kami mencari makan siang di dekat Kanazawa dan pulang ke JAIST sore harinya. Melelahkan, tapi asyik.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...