Sunday, March 29, 2015

Noise Control: Low Vs High Frequencies

Pada awal tahun 2015 saya membukanya dengan mengikuti Workshop Akustik dan Vibrasi yang diadakan oleh Departemen Teknik Fisika ITB. Keynote speaker workshop kali ini adalah Prof. David Herrin dari univeristy of Kentucky, USA. Materi workshop pun cukup menarik dan sangat seusai dengan apa yang selama ini kami kerjakan di lab +VibrasticLab ITS Surabaya. Jadi kami sangat berharap workshop ini dapat meng-upgrade kemampuan kami di bidang Akustik dan Vibrasi, khususnya dalam hal noise control.

Pemaparan materi oleh Prof. David Herrin

Ada 15 materi (chapter) yang dibahas dalam workshop selama dua hari tersebut, mulai dari teori tentang "sound and vibration" sampai aplikasinya dalam desain akustik muffler (knalpot). Beliau, Prof, David Herrin adalah konsultan dari Harley Davidson. Ke-15 materi tersebut adalah sebagai berikut: Basic sound and noise, introduction to numerical acoustics, Application: Engine cover example, numerical simulation applied to compressor, acoustic FEM and AML, design for noise, applied noise control, design of partial enclosure, sound absorbing material, measurement of sound impedance and absorption, measurement of bulk properties, layered materials, design of muffler and silencer, muffler case studies, dan measurement of muffler insertion and transmission loss.

Salah satu isi dari workshop tersebut adalah efek dari pemotongan spesimen/bahan uji terhadap hasil pengukuran. Jika pemotongan spesimen tidak benar-benar presisi, maka terjadi loss terhadap pengukuran. Gambar berikut adalah dua spesimen yang berbeda pemotongan-nya (good and not-good/NG) sedangkan gambar dibawahnya adalah hasil pengukurannya. Garis warna merah menunjukkan hasil pengukuran pada pemotongan dengan diameter 1.375 inchi sedangkan garis warna kuning menunjukkan hasil pemotongan dengan diameter 1.360 inchi (berbeda 0.005 inchi).

Good and Bad specimen cutting
Hasil pengukuran dengan beda diameter 0.005 inchi

Sunday, March 15, 2015

Pengenalan Git

Git adalah distributed revision contol system, the stupid content tracker atau Software Configuration Management (SCM) yang dibuat oleh Linus Torvalds untuk menghandle manajemen kernel Linux karena ketidakpuasannya pada layanan bitkeeper. Git dapat diterapkan untuk mengontrol update file-file kita melalui server private ataupun website yang menyediakan fasilitas hosting git secara gratis atau berbayar. Github adalah salah satu website yang mempopulerkan git, selain github anda bisa mencoba gitorious, gitlab, dan bitbucket. Selain git, contoh SCM lainnya adalah mercurial hg.

Dengan Git, kita bisa mengupdate file-file kita (umumnya berupa source code) antar PC, dimanapun dan kapanpun, selama ada koneksi internet. Github mirip layanan online file storage seperti Dropbox, Copy dan Drive namun berbasis git. Disini saya akan mencontohkan git untuk manajemen source code, sangat berguna untuk mahasiswa, peneliti, dosen dan programmer, namun dapat diaplikasikan pada semua pekerjaan yang membutuhkan kemudahan manajemen file skrip.

Sistem operasi yang saya pakai adalah Ubuntu (14.04), dan sudah terinstall git (jika belum install dengan : sudo apt-get install git). Misalkan kita mempunyai folder yang berisi file-file kode sumber / script seperti C, Matlab, html ataupun txt. Dengan git kita akan mengontrol revisi pada file pada folder tersebut.
mkdir /tmp/coba
cd /tmp/coba
Dua perintah diatas untuk membuat folder coba di dalam /tmp, kemudian kita membuat file dengan nama coba.txt
echo "ini adalah file pertama" >> coba.txt
Ok, kita sudah punya satu folder dan file yang akan kita kontrol revisinya. Untuk manajemen file, kita tambahkan file readme.md yang berisi keterangan tentang folder tersebut.
echo "Contoh manajemen revisi file skrip dengan Git dan Github" >> readme.md
Setelah kita punya file yang akan kita kontrol revisinya, kita buat repo di github, anggap kita sudah punya akun github, jika belum silakan buat akun github. Sceenshot dibawah ini adalah contoh pembuatan repo baru dengan nama coba (.git).

Membuat repo baru di Github

Saturday, March 07, 2015

Deteksi Multi Pitch Berdasarkan Jumlahan Harmonik

Pitch merupakan persepsi telinga manusia atas frekuensi dasar (suara). Deteksi maupun estimasi pitch banyak dipelajari dan digunakan untuk beberapa aplikasi seperti pemisahan suara, pengenalan suara atau untuk tuning alat musik.

Output progam
Berdasarkan paper Ansi Klapuri pada tahun 2006, estimasi multi-pitch ini dapat didekati dengan jumlahan harmonik. Pendekatan ini secara konseptual "sangat simpel" dan efisien secara komputasi. Ide dasarnya adalah dengan menghitung saliance, strength atau power dari kandidat F0 sebagai jumlah bobot amplitudo harmonik-harmoniknya. Pemetaan dari spektrum Fourrier menjadi "F0 salience spectrum"  didapatkan dari optimisasi data training.

Saliance dapat dihitung dari jumlah bobot amplutido dari harmonik sebagai berikut,

dimana f adalah frekuensi harmonik ke-n, dan g adalah bobot parsial harmonik m dari periode tau.

Metode
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...