Thursday, May 08, 2014

Nannunk Dan Kreativitas

Ingat Nannunk (Husniannur, @nannunk), saya ingat satu kata: Kreativitas. Mungkin saya tidak sedekat teman-teman dekatnya, namun saya pernah tiga tahun sekamar dengannya. Dia memberi banyak pelajaran berharga bagi saya, pelajaran tentang persahabatan, seni dan mendaki gunung. Sungguh, dia seorang dengan talenta dewa, goresan pena-nya dalam menggambar dan menulis sama hebatnya. Desainnya simple tapi elegant. Kombinasi warna yang dia gunakan cukup sederhana, tapi mempesona.

Saat di pesantren, kesan pertama yang saya tangkap adalah dia seorang pribadi yang bersih. Dan benar adanya, kamar kami adalah kamar yang paling bersih dengan satu catatan: saat Ibunya datang. Ya, ibunda beliau selalu membersihkan kamar kami ketika menjenguk anaknya. Ketika kami sekolah, seharian penuh beliau membersihkan kamar kami, kadang dibantu dengan seorang perempuan, mungkin kakaknya nannunk, saya lupa. Nanunk sendiri adalah yang paling bersih di kamar, terlihat dari lemari dan tempat tidurnya. Bukankah Islam memang mengajarkan kebersihan dan keindahan?

Pendakian pertama saya pun saya lakukan bersama nannunk. Tak tanggung-tanggung, gunung tertinggi di Jawa kami daki saat itu. Sebagai seorang pendaki, kesederhanaannya tak kalah sebagai seorang desainer. Stylenya khas: kaos oblong, jeans, dan kadang, sandal jepit. Tapi sungguh dia tetap stylish dan elegant dengan gayanya seperti itu. Style-nya diatas rata-rata. Dia beda, beda dengan yang lain. Akan sangat mudah menemukannya diantara gerombolan kawan SMA yang lain. Dia tak ubahnya si Roy dengan style yang tinggi. Nanunk yang good looking dan eye catching. Bukankah Islam memang menyuruh kita untuk berpenampilan menarik seperti nannunk? Setelah Semeru, pendakian ke G. Arjuno dan petualangan ke Sempu menjadi kisah-kisah kami berikutnya, kisah yang kini harus berhenti.

Nannung, sang pendaki, berlatar saya dan teman-teman lainnya
Saat masih mahasiswa juga, saya sesekali main ke kost-nya di Malang. Tak sering memang. Sekali lagi, kesederhanaan desain juga melekat pada kamarnya, pada aktivitasnya dan pada kesehariannya. Kamarnya (terakhir yang saya kunjungi) dipenuhi gravity, bendera dan karya-karya seni miliknya. Sungguh briliant. Kost itu pula dengan cantiknya menghadap sungai dan sawah-sawah pedesaan di pinggiran Malang, dekat mushola pula.

Sesekali juga dia main ke Surabaya, Jombang atau tempat-tempat lain dimana kami teman-teman SMA ngumpul. Tak ingat, kapan terakhir saya bertemu dengannya. Saya juga pernah memesan desain padanya yang saat itu masih mahasiswa. Darinya saya mendapat pelajaran kreativitas yang berharga. Tiga warna dalam desain itu sudah cukup, begitu katanya saat bicara tentang warna dalam desain.

Kini dia telah tiada, seorang dengan kreativitas tanpa batas. Dia adalah perpaduan Rangga (dalam AADC), Soe Hok Gie dan Si Roy.  Nanunk yang seorang pendaki, pelukis, penulis, pemusik dan berbagai talenta lainnya. Muslim yang menghargai dan menggali nilai-nilai seni dalam Islam. Kullu nafsin dzaaiqotul maut. Setiap yang bernyawa pasti menyicipi mati. Selamat jalan Nunk, kami pasti menyusulmu.


p.s: Kalau ada kebaikan/pahala dari tulisan ini, saya langsung by-pass kan ke almarhum Nannunk.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...