Saturday, November 09, 2013

Ketika Korupsi Sudah Mendarah Daging [2]

Membaca cerita tentang seorang kasir yang melakukan korupsi secara kontinyu di sebuah minimarket, saya miris. Betapa korupsi telah mendarah daging di tubuh kita. Tak hanya kasir supermarket, kasir POM bensin, kasir toko, dari pejabat pemerintah sampai rakyat kecil, dari untuk mencari sekolah sampai mencari kerja, semua melakukan korupsi. Ayah saya menyebutnya sebagai korupsi yang terorganisir. Padahal hal tersebut jauh dari ajaran Islam. Masalah jual beli, tak hanya berhenti sampai di kasir saja, meskipun kedua belah pihak menghalalkan. Karena di satu pihak tidak tahu kalau dia dibohongi, maka dia menghalalkan jual beli tersebut. Kelak semuanya akan diminta pertanggung jawabannya, ketika bukan mulut kita yang bicara, namun anggota tubuh kita yang lain mengatakan hal sebenarnya yang dulu kita tutupi saat di dunia.

Begitu juga ketika mencari kerja. Hampir semua sektor kerja di pemerintahan dan militer 'mensyaratkan' uang pelicin untuk masuk instansi pemerintah tersebut. Tidak semua memang, namun hal itu sudah umum terjadi saat mencari kerja di instansi pemerintah. Hal ini justru berbeda ketika kita mencari kerja di sektor swasta. Umumnya, rekruitmen pegawai baru di sektor swasta lebih jujur dan fair, tidak seperti instansi pemerintah dan militer dimana banyak oknum yang meminta uang dari puluhan juta sampai ratusan juta. Ini fakta kawan! coba tanya teman anda yang apply PNS atau militer (baik Tamtama atau Akabri). Berapa uang yang mereka serahkan untuk diterima di tempat tersebut? Padahal gaji kerja tersebut nantinya akan diberikan pada keluarga, pada anak dan istri. Bagaimana keluarga bisa berkah kalau gajinya didapat dari cara mencari kerja yang tidak barokah pula? Dalam luang lingkup yang lebih besar, bagaimana negara ini bisa maju dan barokah kalau sistemnya seperti itu?

Struk yang diduga bukti korupsi kasir (Sumber Kompasiana -Angin Maj)

Saya bandingkan dengan Jepang, meski ada korupsi yang tidak terlihat seperti yang pernah saya singgung pada artikel Para Pencuri Gaji, namun umumnya mereka anti korupsi. Padahal mereka bukan muslim seperti kita, namun mereka memahami etika, baik etika jual beli, berwirausaha, mencari kerja dan aktivitas muamallah di bidang kehidupan lainnya. Contoh kecil, ketika anda membeli barang seharga 999 yen, dan anda membayar dengan uang 1000 yen, saya pastikan anda akan mendapatkan kembalian sebesar 1 yen (satuan pecahan mata uang terkecil di Jepang). Tidak seperti di Indonesia, uang pecahan satu rupiah saja tidak ada, tapi kenapa ada barang yang harganya 99999 rupiah? Bagaimana cara membayar kembaliannya? Atau taruhlah ada barang harganya 9900 rupiah, saya pesimis si penjual akan mengembalikan uang kembalian 100 rupiah kepada pembeli. Sering dijumpai malah uang kembalian 100 rupiah diganti permen, padahal dalam akad jual beli kita tidak membeli permen sama sekali!

Kejujuran kawan, itulah yang harus kita tanamkan pada diri kita, pada tubuh kita, pada keluarga kita dan lingkungan kita. Hidup ini tidak mencari materi semata, tapi ada hal lain, kerberkahan dari Allah SWT, yang jauh lebih tinggi derajatnya dari materi dunia. Hidup ini juga tidak hanya di dunia saja, justru ada kehidupan lain yang lebih kekal nantinya. Apakah kita masih terus mengejar dunia, atau menjadikan dunia ini sebagai sarana untuk sukses di akhirat?

Bersambung ke artikel selanjutnya; Anti-korupsi: Belajar Kejujuran Pada Pengemudi Taksi.

Link terkait:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...