Monday, November 04, 2013

Kajian Bulanan KMI Mie-ken Nopember 2013: Dunia Sebagai Sarana Mencapai Akhirat

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anfaal ayat 67,

تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ...

Artinya:
..Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat diatas mengingatkan kita bahwa tujuan hidup di dunia adalah untuk mencapai akhirat. Sudah menjadi sifat manusia untuk menginginkan dunia. Bahkan kalangan sahabat pun mengingatkannya. Dalam perang Uhud, Rasululullah berpesan kepada pasukan pemanah untuk tetap berada diatas gunung apapun yang terjadi. Namun, saat peperangan, ketika pasukan di bawah merayakan kemenangan dan mengambil harta rampasan perang, pasukan pemanah ada beberapa yang turun. Akhirnya beberapa sahabat pasukan pemanah turun untuk ikut menikmati rampasan perang, harta duniawi.

Ust. Chandra mengajarkan huruf hijaiyyah

Khalid bin Walid yang saat itu masih menjadi musuh muslim memutar balik pasukannya dan menyerang kembali. Rasul pun sempat terluka dan giginya rontok. Inilah sifat manusia, dalam Islampun tidak dilarang untuk mencari harta sebanyak mungkin. Sahabat Abdurrahman bin Auf pernah menginfakkan hartanya, 1000 unta, yang merupakan harta paling mewah saat itu. Namun yang menjadi acuan adalah, harta di dunia digunakan sebagai sarana mencapai akhirat. Seperti Abu Bakar, Umar dan sahabat lain, ketika diminta beramal, beliau-beliau menginfakkan hartanya, malah ada yang separuh harta dan seluruh hartanya. Inilah yang dimaksud kehidupan dunia sebagai sarana mencapai akhirat.

Diantara 10 sahabat yang dijamin surga, yang paling miskin mungkin Bilal bin Rabah. Ketika meninggal, dia bertanya pada istrinya, adakah harta mereka yang belum dishodaohkan. Istrinya menjawab bahwa mereka masih memiliki piring perak. Sahabat yang digolongkan miskin pun begitu bersemangatnya bersodaqoh. Sembilan sahabat lainnya termasuk golongan kaya. Memperkaya diri dengan cara yang baik diperbolehkan, namun sekali lagi, harus dijadikan sarana untuk mencapai akhirat. Dan ketika kita diminta menginfakkan harta kita di jalan Allah, kita harus memberikannya karena itu kewajiban kita. Itulah yang dimaksud kehidupan dunia adalah jembatan sukses kehidupan akhirat.

Semoga kita dikayakan di dunia dan di akhirat kelak, baik kaya hati maupun kaya harta, Amiin.

KMIM, Nopember 2013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...