Sunday, April 21, 2013

Kajian Bulanan Mie ken Perdana: Pentingnya Memanfaatkan waktu

Alhamdulillah, setelah sekian lama direncanakan, akhirnya acara kajian bulanan untuk masyarakat Indonesia di Mie-ken (Prefekture Mie, Jepang) bisa terlaksana. Kajian bulanan perdana dimulai Maret 2013 lalu bertempat di apato kensyusei di Kuwana-shi.

A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Pada pengajian perdana di bulan maret lalu, Al-ustadz, Chandra Yuliansjah menyampaikan materi tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Beliau mentadzaburi surat Al-Ashr, surat yang cukup pendek tapi menyimpan makna yang dalam. Bahkan, Imam Syafii ra pernah berujar, kalau Al-Quran tidak diturunkan, cukuplah surat Al-Ashr ini saja yang menjadi pedoman untuk umat manusia.

Al-kisah, ada empat tokoh musyrikin mekah yang hidupnya berleha-leha saja. Uban sudah menutupi kepalanya, wajah sudah berkerut, tapi mereka tetap saja bersantai dalam hidup. Naudzubillah, semoga kita tidak seperti itu...

Pepatah arab mengatakan,
waktu itu ibarat pedang
Jika lalai memanfaatkan waktu, maka dia yang akan memotong kita. Waktu akan memotong usia kita dan kita akan merugi. Sudah menjadi sifat manusia untuk cenderung lalai memanfaatkan waktu, maka Al-Quran berkali-kali menyeru manusia untuk memanfaatkan waktu. Demi waktu, Demi masa, Demi waktu dhuha, Demi malam, dan masih banyak ayat Quran yang membahas tentang pentingnya waktu.

Rasulullah SAW pernah menyinggung dua kenikmatan yang diberikan Allah SWT pada manusia, tetapi manusia lalai memanfaatkannya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari]

Pun demikian dengan Rasulullah, jika beliau sendiri mengisyaratkan adanya dua nikmat yang sangat besar yakni kesehatan dan waktu luang, dan beliau memanfaatkan dua hal tersebut untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Padahal beliau sudah dijamin surga, bagaimana dengan kita, masihkah kita membuang waktu-waktu kita dengan sia-sia? dengan FBan tanpa batas, berleha-leha dan hal-hal lain yang tiada manfaatnya..??

Time is [NOT] Money.
Jika orang-orang barat mengatakan waktu adalah uang, sehingga mereka bekerja mati-matian untuk menghasilkan uang, hendaknya kita umat muslim menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk beribadah. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, semua aktivitas kita bisa bernilai ibadah bila kita niatkan untuk memperoleh ridho Allah SWT. Dalam hadis yang lain Rasulullah mengingatkan: Bekerjalah seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan besok engkau akan mati. Karena masih 1000 tahun lagi, tentunya kita akan 'santai' dalam bekerja, sebaliknya, karena akan mati besok, seharusnya kita menyegerakan dan bergegas dalam beribadah.

Manusia adalah kumpulan hari

Ya, manusia adalah kumpulan hari. Hari sejak dia dilahirkan, dan kemudian hari demi hari berlalu hingga dia berumur 1 tahun, 2 tahun, menginjak remaja, dewasa, orang tua dan akhirnya menjadi orang yang sudah benar-benar tua, itupun kalau diberi umur panjang. Dan tak lama kemudian, sebagai manusia ciptaaNya kita akan kembali juga ke haribaanNya. Dan kelak, kita akan ditanya, apa yang sudah kita perbuat selama waktu kita hidup di dunia? apakah kita sudah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya...?

Sebagai penutup, mari kita renungi lagi keseluruhan 3 ayat surat Al-'Ashr,

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Imam Syafi'i bahkan berpesan berkaitan dengan surat Al-ashr tersebut,

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

"Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499][1].

Pada sumber yang lain dinyatakan,

هذه السورة لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هي لكفتهم
"“Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.” [2]

Sehingga, dari surat tersebut dapat ditarik kesimpulan golongan yang tidak akan rugi:

  1. Orang yang beriman
  2. Orang yang mengerjakan amal sholeh (amal yang baik)
  3. Orang yang saling menasehati dalam mentaati kebenaran
  4. Orang yang saling menasehati supaya menetapi kesabaran


Hidup itu seperti berlomba dengan waktu, atau bisa juga, hidup itu seperti berlomba dengan kematian. Mana yang lebih dulu tercapai, apakah kita berhasil mengukir sejarah dalam kehidupan ini, dan sejarah mencatat nama kita karena suatu hal (tidak harus hal yang besar), ataukah waktu kematian yang lebih dulu merenggut kita sebelum kita sempat menorehkan sejarah, semuanya tergantug pada diri kita.

Dalam sesi diskusi di akhir pengajian, dibahas juga tentag muammalah jual beli dimana dalam akad jual beli harus tidak ada kebohongan di dalamnya dan hanya mengejar nilai kemanfaatan serta keberkahan, bukan hanya menyetujui satu sama lain (setuju karena tidak tahu). Juga tidak boleh ada yang terdzolimi, satu sama lain, dalam proses mummalah tersebut. Tak ketinggalan juga bahasan tentang riswah atau suap yang marak terjadi di tanah air. Wallahua'lam bisshowab.


Referensi:
  1. https://muslim.or.id/2535-tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html
  2. https://rumaysho.com/3483-tafsir-surat-al-ashr-orang-sukses-waktu.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...