Thursday, September 22, 2011

Waduk Gondang, Lamongan

Waduk Gondang Lamongan terletak 19 km arah barat Lamongan, di desa Gondang Lor dan Deket Agung Kecamatan Sugio. Sebagai tempat wisata, waduk ini terbilang cukup murah meriah. Untuk menuju waduk Gondang, ada beberapa cara yakni dengan kendaraan pribadi atau dapat juga menggunakan angkutan umum dari Lamongan menuju Gondang. Sebagai informasi, waduk Gondang ini diresmikan oleh Presiden Suharto tahun 1987. Luas waduk Gondang adalah 6,60 Ha dan kedalaman waduk Gondang sekitar 29 meter, kapasitas air normal mencapai 23 juta m3 mampu mengairi lahan pertanian seluas 8.412 Ha.


Pintu Masuk Waduk Gondang

Selain sebagai sumber irigasi pertanian, waduk Gondang Lamongan juga difungsikan untuk penyediaan kebutuhan air minum di beberapa daerah di Kabupaten Lamongan. Tak kalah pentingnya, waduk Gondang juga sebagai tujuan wisata untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di Waduk Gondang, pengunjung dapat menikmati keindahan waduk sambil memancing ikan. Tersedia pula perahu untuk mengelilingi areal waduk, dan beberapa fasiltas lain seperti tempat bermain anak-anak, sepeda air, dan kebun binatang mini yang dihuni sekawanan rusa, burung merak, dan satwa lainnya. Harga sewa perahunya-pun murah. Saat saya ke Waduk Gondang tahun 2007 lalu, sewa perahu di Waduk Gondang hanya 20.000 rupiah, (bandingkan dengan sewa perahu untuk melintasi sungai musi yang 50.000 rupiah, itupun yg paling murah) dan di tengah-tengah waduk kita bisa minta turun sebentar untuk menginjakkan kaki di pulau kecil di tengah waduk tersebut. Pulau di tengah waduk Gondang itu mirip pulau samosir di danau toba, lebih jelasnya lihat foto di bawah.

Wednesday, September 21, 2011

Computational Auditory Scene Analysis - CASA

Setelah pada posting sebelumnya, saya bercerita tentang metode pemisahan sinyal suara dengan Blind Source Separation atau BSS kali ini saya akan mengulas sedikit tentang metode pemisahan sinyal suara lainnya, yang lebih dekat ke bagaimana sistem pendengaran manusia bekerja memisahkan sumber - sumber suara. Metode itu dinamakan Computational Auditory Analysis atau disingkat CASA yang merupakan representasi komputasional dari ASA (Auditory Scene Analysis).
Skema Arsitektur CASA [1]
ASA diperkenalkan oleh Al Bregman (psikolog) untuk menjelaskan bagaimana sistem pendengaran manusia bekerja, khususnya dalam memisahkan dan mengidentifikasi lokasi sumber bunyi yang di dengar oleh telinga berdasarkan teori dan eksperimen psikologi terhadap sistem pendengaran manusia. Bregman berpendapat bahwa saat manusia mendengar suara pada dasarnya dia melakukan proses auditory scene analysis. Proses ASA tersebut dibagi menjadi dua tahap, yakni tahap segmentasi dimana terjadi pengelompokan elemen-elemen akustik berdasarkan time-frequency dan tahap kedua adalah pengelompokan elemen-elemen tersebut berdasarkan sumber-sumber suara yang sama. Skema arsitektur sistem CASA dapat digambarkan pada gambar diatas.

Menggambar Fraktal Fern di Matlab

Fraktal atau fractal merupakan gambaran benda geometris yang kasar pada segala skala, dan terlihat dapat "dibagi-bagi" dengan cara yang ekstrim. Beberapa fraktal bisa dipecah menjadi beberapa bagian yang semuanya mirip dengan fraktal aslinya. Fraktal dikatakan memiliki detail yang tak hingga (unlimited) dan dapat memiliki struktur serupa diri pada tingkat perbesaran yang berbeda. Pada banyak contoh, sebuah fraktal bisa dihasilkan dengan cara mengulang suatu pola yang sama dalam proses rekursif atau iteratif dan ukuran yang berbeda. Istilah fractal dibuat oleh Benoît Mandelbrot pada tahun 1975 dari kata Latin fractus yang artinya "patah", "tidak teratur" atau "rusak". Sebelum Mandelbrot memperkenalkan istilah tersebut, nama umum untuk struktur semacamnya (misalnya bunga salju Koch) adalah kurva monster (monster curve).
Matematika, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan awalnya mempelajari fenomena ini sebagai benda-benda matematis. Geometri fraktal adalah cabang matematika yang mempelajari sifat-sifat dan perilaku fraktal. Fraktal bisa membantu menjelaskan banyak situasi yang sulit dideskripsikan menggunakan geometri klasik, dan sudah cukup banyak diaplikasikan dalam sains, teknologi, dan seni karya komputer. Dulu ide-ide konseptual fraktal muncul saat definisi-definisi tradisional geometri Euklides dan kalkulus gagal menganalisis objek-objek kurva monster tersebut.

Gambar Fraktal Fern

Salah satu contoh fraktal adalah fractal fern atau fraktal daun. Gambar fraktal fern dapat dilihat diatas dan untuk menggambarnya dapat menggunakan script Matlab berikut ini. Silakan run script Matlab berikut dan ganti parameternya untuk mendapatkan gambar yang berbeda.

Tuesday, September 20, 2011

Kobaran Api di Dasar Laut, Sebuah Mukjizat Al-Quran

Subhanallah! Kembali Al-Qur'an memberikan mukjizatnya melalui penemuan-penemuan baru yang akan menguatkan Sains Islam atau Islamisasi sains. Baru-baru ini muncul sebuah fenomena retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-luah, ia tidak bisa memadamkan api.

Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya:  
"Ada laut yang di dalam tanahnya ada api" (Qs. Ath-Thur 6).

Sedangkan Rasulullah SAW pernah bersabda:  
"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."

Gambar Kobaran Api di Dasar Laut

Instalasi Matlab di Ubuntu Linux

Sebagai salah satu program yang paling banyak digunakan dalam dunia saintifik, khususnya di bidang Teknik atau Engineering, mau tidak mau Matlab harus terinstall dalam setiap PC atau laptop mahasiswa teknik, termasuk pada PC atau laptop yang ber-OS Ubuntu / Linux. Nah, biasanya ada permasalahan saat instalasi Matlab di Ubuntu. Permasalahan itu tak lain dan tak bukan pada file permission.

Saya asumsikan anda telah memiliki instalasi Matlab untuk Linux atau Mac (Silakan "beli" atau cari trialnya di Google). Jika file instalasi berasal dari DVD (.iso), maka copy dulu file itu ke dalam laptop dan ekstrak untuk mendapatkan file instalasinya, klik kanan file .iso tersebut, pilih open with >> Archieve Mounter. Kemudian berpindahlah pada directory dimana file .iso tersebut di mount (mudahnya klik kanan "open in terminal" di directory tersebut). Jika anda hanya mengekstrak file ISO tersebut kemudian berpindah ke direktori hasil ekstraksi untuk menginstall Matlab (sesuai langkah dibawah) kemungkinan akan ada error dan instalasi tidak akan berhasil.

Setelah itu, ketik perintah berikut
cd DIREKTORI_MATLAB_MU/update/bin/glnx86

sudo chmod 777 *

cd DIREKTORI_MATLAB_MU

sudo sh install
Misal, jika direktori master/installer matlab anda di home/user/matum2k9b
maka ubah direktorinya dengan perintah

cd /home/user/matum2k9b/bin/glnx86

sudo chmod 777 *

cd /home/user/matum2k9b

sudo sh install

Pastikan juga anda memiliki file lisensi (license file) pada direktori tersebut yang biasanya bernama license.dat

Menyembunyikan Opsi Windows OS pada Dual Boot Screen Windows-Linux

Teknik yang satu ini terbilang cukup keren dan memiliki banyak fungsi. Pertama, jika sewaktu waktu ada razia Software atau OS bajakan anda bisa lolos (kalau yang merazia tidak pakar Unix tentunnya..:-) ), dan yang kedua bisa kelihatan keren karena sepertinya anda hanya menggunakan satu OS, yakni Linux.

Ok, untuk menyembunyikan opsi atau pilihan menu Windows OS pada boot screen dual boot (defaultnya opsi Windows OS berada di urutan terakhir), silakan ikuti petunjuk berikut
  1. Masuk ke terminal (Ctrl+T) dan ketik: sudo nano /boot/grub/grub.cfg
  2. Masukkan password root anda
  3. Cari kata-kata berikut: menuentry "Microsoft Windows...."
  4. Hapus kata dalam tanda petik berikut: "Microsoft windows... " sehingga tidak ada kata dalam tanda kutip atau seperti ini this " "
  5. Restart komputer/PC anda dan anda tidak akan menemukan menu atau pilihan windows OS pada boot screen, namun sejatinya menu/opsi itu masih ada, arahkan saja kursor pada pilihan paling bawah dan tekan enter disitu, anda akan masuk pilihan windows OS.
Selamat Mencoba, Good luck!
Menu Windows Yang Disembunyikan

Monday, September 19, 2011

Mata Lalat Ilhami Medical Imaging [2]: Endoscopy Akan Menjadi Masa Lalu

Pada posting sebelumnya yang sudah sangat lama disini telah disebutkan bahwa mata majemuk lalat (compound eye) memiliki kemampuan yang mengagumkan, bisa mengindera 330 getaran dalam satu detik, memiliki penglihatan yang luas dalam satu bayangan gambar dan sangat tajam. Kemampuan tersebut apabila ditransfer dalam alat pencitraan akan menghasilkan manfaat yang tidak diragukan apalagi dalam dunia kedokteran.
Gambar Mata Lalat diambil dengan Mikroskop Electron

Sayang seribu sayang, yang pertama meneliti hal ini adalah para ilmuwan Israel. Mereka kini tengah mengembangkan perangkat baru di bidang pencitraan medis dengan mengadopsi kemampuan compound eye. Mereka berharap bahwa alat tersebut, yang masih dalam tahap pengembangan, akan memberikan lebih banyak keuntungan dan kemampuan daripada alat yang ada sekarang. Keuntungan tersebut adalah biaya yang lebih murah daripada teknologi pencitraan yang digunakan pada perangkat-perangkat yang ada.

Friday, September 16, 2011

Tanda Kiamat: Tanah Arab Menjadi Perkebunan

Ilustrasi Tanah Arab
Di antara mukjizat dalam sains atau ilmu pengetahuan pada sunnah adalah sabda Rasulullah, "Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga tanah Arab kembali menjadi padang rerumputan atau perkebunan." (HR Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah bersabda "sehingga tanah Arab kembali" maksudnya tanah jazirah Arab. Adapun makna sabda Rasul SAW "sehingga kembali" yaitu bahwa dahulu tanah Arab dipadati oleh rerumputan dan perkebunan, dan nanti tanah Arab akan kembali seperti semula yakni menjadi perkebunan kembali setelah lama menjadi padang pasir. Itulah tanda akan kiamat.

Pembuktian hadits ini, bahwa berkat kemajuan teknologi dan ilmu geologi serta kemajuan teknologi riset, para ahli geologi memprediksi bahwa sebagian daratan Arab pada masa dahulu adalah tanah yang subur untuk pertanian dan perkebunan.

Sunday, September 11, 2011

Sains Islam, adakah...?



Sains Islam (Science Islam)
 Sebelum membahas lebih jauh tentang sains Islam, perlu dipahami konsep sains itu sendiri. Sains (ilmu pengetahuan, atau ilmu saja) Berbeda dengan pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah semua informasi yang diterima oleh manusia. Menurut Arthur Hays Sulzberger, pengetahuan tidak hanya sesuatu yang diterima namun juga yang dipersespsi, dipelajari dan ditemukan oleh manusia. Sedangkan sains (arab: al-'ilm) merupakan pengetahuan yang terorganisasi. Pendapat lain mengatakan bahwa sains adalah pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Jadi, sains merupakan bagian dari pengetahuan dan tidak semua pengetahuan merupakan sains.
            Konsep sains Islam merupakan upaya untuk membentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sains tersebut tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, Kalam, Tasawuf, dan lain-lain, namun juga pada bidang yang lain: Matematika, Fisika, Kima, Biologi, Kedokteran, dll. Konsepsi sains Islam ini berusaha untuk menggabungkan ilmu-ilmu agama dan sains secara umum yang sebelumnya terdikotomikan. Sains, karena sarat akan nilai-nilai subyektif dan juga obyektif, dapat dibangun dengan pendekatan kultural yang khas, termasuk dari sisi agama. Islam, sebagai agama yang diakui oleh pemeluknya satu-satunya yang benar tentunya memiliki landasan dan arahan dalam membangun dan mengembangkan sains di semua bidang agar tidak bertentangan dengan keimanan pemeluknya.

Habibie, Islam dan Teknologi [3]: Apapun diperbolehkan Pak Harto, Asal Bukan Revolusi


Foto Pak Habibie


Mantan Presiden Bacharuddin Yusuf Habibie dalam ceramahnya di Al Azhar Conference Center (ACC) di Kairo, Mesir, pada Senin (6/6), mengungkapkan bahwa ia pernah ditantang Presiden Soeharto untuk mengaktualisasi ajaran Islam. 

Majapahit Kerajaan Islam ...?

Tidak akan ada yang mengira jika sebenarnya Majapahit merupakan kerajaan Islam. Meski argumen bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam didasarkan pada bukti-bukti sejarah dari penelitian, namun masih terlalu dini untuk menjadikan Majapahit adalah Kesultanan Islam menjadi fakta sejarah.
Adalah Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP), Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta yang melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah tim tersebut berkutat dengan beragam fakta dan data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim tersebut kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku tersebut hingga kini masih diterbitkan secara terbatas, khususnya pada kalangan organisasi Muhammadiyah.
Lambang Majapahit (Surya/Matahari Majapahit) yang bertuliskan tulisan Arab

Berikut alasan-alasan yang menjadikan Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari LHKP Muhammdiyah Yogyakarta menyimpulkan bahwa Majapahit adalah Kesultanan Islam.

Thursday, September 08, 2011

Candi Jawi

Foto Candi Jawi
Sekali waktu saya berkesempatan menghadiri pernikahan seorang teman serta menjenguk teman yang sakit. Nah, rumah teman saya ternyata tidak jauh dari lokasi candi Jawi, dan yang tak kalah serunya ternyata petugas penunggu Candi Jawi tersebut adalah ayah teman saya (pantas saja, saat mau tanya alamat teman saya, teman saya itu malah menyuruh saya bertanya pada petugas Candi). Jadilah, kami mendapat cerita banyak tentang Candi Jawi tersebut.

 

Latar belakang Pembangunan Candi Jawi

Candi Jawi adalah peninggalan kerajaan Singosari saat dipimpin oleh Raja Kertangera. Dinamakan candi jawi karena lokasinya berada diluar (jawi=luar, bhs Jawa) kotaraja Singosari yang berada di wilayah Malang saat ini. Alasan Kertanegara membangun candi Jawi jauh dari pusat kerajaan diduga karena di kawasan ini pengikut ajaran Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat setia. Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, ia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Kidung Panji Wijayakrama, misalnya, menyebutkan terjadinya pemberontakan Kelana Bayangkara. Negarakertagama mencatat adanya pemberontakan Cayaraja.
Ada dugaan bahwa kawasan Candi Jawi dijadikan basis oleh pendukung Kertanegara. Dugaan ini timbul dari kisah sejarah bahwa saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegera dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), dia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

 

Struktur dan Fungsi Candi Jawi

Bentuk candi berkaki Siwa, berpundak Buddha. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah, dengan ukuran luas 14,24 x 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter. Pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai alasan untuk mempertegas bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina (sebuah upacara penghormatan terhadap seorang dewa, disebut Dewayadnya atau dewayajña), karena biasanya candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat yang dipercaya sebagai tempat persemayaman kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan. Sementara ahli lain ada pula yang beranggapan bahwa candi ini tetaplah candi pemujaan, dan posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari ajaran Buddha.

 

Arkeologi Candi Jawi

Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di dindingnya. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Negarakertagama yang secara jelas menceritakan candi ini tidak menyinggung sama sekali soal relief tersebut. Berbeda dengan relief di Candi Jago dan Candi Penataran yang masih jelas. Salah satu fragmen yang ada pada dinding candi, menggambarkan sendiri keberadaan candi Jawi tersebut beserta beberapa bangunan lain disekitar candi. Nampak Jelas pada fragmen tersebut pada sisi timur dari candi terdapat candi perwara sebanyak tiga buah, namun sayang sekali kondisi ketiga perwara tersebut saat ini bisa dibilang rata dengan tanah. demikan juga di fragmen tersebut terlihat jelas bahwa terdapat candi bentar yang merupakan pintu gerbang candi, terletak sebelah barat. Sisa-sisa bangunan tersebut memang masih ada, namun bentuknya lebih mirip onggokan batu bata, karena memang gerbang candi tersebut dibangun dari batu bata merah.

Disamping relief yang terletak dibagian dinding candi, terdapat pula relief lain yang terletak dibagian dalam candi. Terletak tepat dibagian tengah candi yang merupakan bagian tertinggi dari bagian dalam candi, terdapat sebuah relief Dewa Surya yang terpahat jelas.

Keunikan lain dari Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Sehingga timbul dugaan bahwa bisa jadi candi ini dibangun dalam dua periode yang berbeda teknik bangunan.

Sejarah Candi Jawi menurut Negarakertagama

Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca Siwa. Di atasnya arca Siwa terdapat arca Maha Aksobaya yang kini telah hilang. Ada sejumlah arca bersifat Siwa, seperti Nandiswara, Durga, Ganesa, Nandi, dan Brahma.
Kakawin Negarakertagama menyebutkan bahwa pada saat candrasengkala atau pada tahun Api Memanah Hari (1253 Saka) candi itu disambar petir. Saat itulah arca Maha Aksobaya raib. Dikisahkan Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk yang mengunjungi candi itu kemudian bersedih atas hilangnya arca tersebut. Walaupun telah ditemukan arca Maha Aksobaya yang kini disimpan di Taman Apsari, depan Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, yang kemudian dikenal dengan Patung Joko Dolog, arca ini bukan berasal dari Candi Jawi.
Ditulis bahwa setahun setelah Candi Jawi disambar petir, telah dilakukan pembangunan kembali. Pada masa inilah diperkirakan penggunaan batu putih. Namun, asal batu putih tersebut masih dipertanyakan, karena kawasan yang termasuk kaki Gunung Welirang kebanyakan berbatu hitam, dan batu putih hanya sering dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura.

 

Pemugaran dan usaha konservasi

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982. Kini biaya pemeliharaan didapatkan dari sumbangan sukarela dari pengunjung maupun LSM lainnya.
Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping.

Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Tikus di Trowulan dan Candi Bajangratu di Mojokerto.

 

Arca dan Benda Sejarah yang telah dipindahkan

Arca-arca peninggalan yang ditemukan di Candi Jawi telah dipindahkan, sebagian besar ke Museum, dan sebagian ke tempat komersial. Pemindahan arca-arca dari Candi Jawi ataupun candi lainnya ini mendapat banyak kritik dari sejarawan dan masyarakat setempat, karena walaupun pada satu sisi memang tepat untuk menghindarkan dari pencurian, pemindahan ini dianggap dapat mengurangi substansi sejarah peninggalan tersebut sehingga menjadi tidak lengkap untuk diapresiasi. Arca-arca yang dipindah dari habitatnya menjadi kehilangan nilai historisnya. Arca candi Jawi yang disimpan di Hotel Tugu Park, Malang, sebagai contoh, memang terawat baik, namun dianggap tercabut dari nilai historis dan ritualitasnya dna menjadi suatu hal yang cenderung dilematis.

Jika anda punya kesempatan berkunjung kesana, atau saat melintasi daerah tersebut (Tretes - Pandaan), sempatkanlah menengok Candi Jawi untuk melepas penat atau menyegarkan suasana sekalian melihat peninggalan kerajaan Hindu-Budha di masa lampau.

Rendezvous di Air Terjun Tirtosari, Sarangan

Berawal dari sebuah sms yang mampir ke hapeku, rabu malam waktu setempat (wmpt, waktu mpt), bunyinya kurang lebih gini: "Gus, besok tmn2 ngumpul di lapangan kraton, jam 9 pagi, datang ya…”, Langsung aja kubalas tu sms: ”Mau maen bola ya Non, apa jam 9 pagi itu gak kesiangan…?”

Karena tidak (belum) punya kendaraan, aku pun sms beberapa teman untuk numpang (boncengan) datang ke acara jam 9 itu. Namun siapa sangka yang menjemputku malah si Dave, dengan sedan putihnya pula. Dia membukakan aku pintu mempersilahkan aku masuk, hehehe gak benar. Yang benar aku membuka sendiri pintu mobilnya dan memaksa ikut numpang ke acara jam 9.
Bersama Mursit, Esti, Ayu dan .... Yanti

Meski agak terlambat akhirnya kami berangkat menuju lapangan kraton. TAPI, setelah sampe disana, lapangan tsb kosong melompong. “Apa teman2 sudah selesai main bola ya Dave..?” tanyaku pada Dave. Dave pun menjawab: “Lha nek kowe takon aku, trus aku takon sopo Gus..?”, Wkwkwk…

Husnudhon bahwa acara main bola tidak molor, kami beranggapan bahwa kami terlambat, dan teman2 sudah selesai main bolanya. Sekarang nggak tw kemana. Untuk memastikan, aku coba hubungi si memet: “Wet, acara main bolanya udah selesai ya.., katanya jam 9…?”. Tak berapa lama pun hapeku kembali berbunyi, si Mewet menjawab: "Belum Guss, ni aku masih nungguin eyang putri di kantor pos…”

Dari dalam sedan putihnya si Dave, aku melihat beberapa pemain bola seliweran di depanku, tapi karena aku bukan panitia pertandingan bola ini aku ya diem aja, Cuma memperhatikan aja. Tapi waktu eyang putri datang aku pun memberanikan diiri untuk memanggilnya, karena beliau panitia acara ni.
“Halo eyang, kok pemain bolanya tidak ada yang datang, tadi aku lihat beberapa pemain, namun karena aku bukan panitia pertandingan ini aku ya diam aja. Lagian aku juga tidak yakin mereka pemain2 kita, karna udah gak bertemu 7 tahun lebih”. Walhasil, karena tidak ada pemain lain yang datang, akhirnya kami menyusul si mursal yang tadi di serahi tugas menyusul es the. Di rumah es teh , yg hanya beberap meter dari rumahku, dicapai kesepakatan (dengan sedikit intervensi dariku) bahwa kita berlima akan ke Sarangan, telaga eksotik kebanggan ki mageti. Dengan sedikit intervensi lagi, aku memaksa tidak hanya ke sarangan tapi ke air terjunnya (aku kan suka banget ke air terjun, hehehe…).

Tepat pukul 12.30 wmpt, after dhuhur’s, kita berlima berangkat ke rumah ki mageti. Si Dave gak bisa ikut karena ada keluarganya yg datang dari kampung halamannya. Ada tiga riders yang memenuhi kualifikasi kecepatan minimum moto GP untuk menjinakkan kuda besi: aku, mursal dan es the. Akhirnya dengan kecepatan maksimal kami bisa mencapai tepi telaga saringan ditengah teriknya sang surya yg over memancarkan pesonanya.

Udara panas menyengat berganti dengan udara panas menyegarkan begtu kami memasuki area ki mageti. Meski sama-sama panas, tapi kali ini lebih segar karena tekanan udara sudah turun seiring ketinggian altitude (benar gak sih..?). Naik lebih ke atas lagi yang terasa malah dinginnya, sedangkan udara panasnya udah lupa kemana…
Foto Esti & Ayu

Sarangan memang rame, tapi kami tidak patah arang. Dengan sedikit intervensi lagi, aku memaksa agar sepeda kita diparkir di luar saja, biar tantangannya lebih kerasa dengan berjalan lama (semi-long trekking). Dengan begini, ke empat temanku akan bisa merasakan nikmatnya menjadi pedestrian, untung gak menenteng carrier atau backpack, cuma tas selempang kecil nan ringan.

“Jangan mengambil sesuatu kecuali foto”. Pepatah itu kami terapkan sebaik-baiknya. Anytime and anywhere, teman2ku tidak akan menyia-nyiakan pose siap jepret: di depan air terjun, di jembatan, Hmmm….

Sepertiga perjalanan (sama dengan separo mengitari telaga saringan), kami memasuki gapura wana wisata & air terjun. Kami bayar karcisnya, dan kami berjalan kembali, menikmati menjadi pedestrian (nikmat gak teman2..?). Dua pertiga perjalanan akan kami lalui setelah penitipan sepeda motor terakhir, dimana seharusnya kami menitipkan tunggangan kami, bukan di luar sana. Sedangkan sepertiga perjalanan terakhir, inilah yang membedakan air terjun ini dengan air terjun lainnya (semisal: Coban Rondo, Coban Pelangi, Madakaripura, Kakek Bodo, Coban Talun, Sedudo, Grojogan Sewu, nDlundung de el el).
Di Jembatan Menuju Air Terjun Tirtosari Sarangan


Yah, aku lebih menikmati sepertiga perjalanan terakhir dari pada air terjun tirto itu sendiri. Dibandingkan coban rondo dan air terjun madakaripura, tempat dimana Gajahmada mengucapkan sumpahnya yang terkenal itu, air terjun tirto memang tidak ada apa-apanya. Tapi perjalanan menuju air terjun tirto itulah yang membedakan air terjun tirto dengan air terjun lain. Perjalanan kaki (on foot) yang lama harus ditempuh jika kita ingin merasakan tetesan air terjun tirto membasahi kepala kita. dan yang lebih penting lagi, selama perjalanan, view-nya pu Wouow…. Kanan kiri sawah berpetak-petak dengan terasering yang seperti undak-undakan, dibelakangnya bukit-bukit melindungi dengan kokohnya. Sementara sinar mentari yang hampir tenggelam hanya mampu menjangkau bagian atasnya saja. Indah banar bukan..? Pernah, saat pertama kali ke tempat itu aku menjumpai seorang ibu petani menunaikan sholat diatas batu datar ditengah-tengah sawah. So natural…. Dengan mukena putih, Ibu tsb dengan khusu’nya berdialog dengan sang Kholiq diatas sebongkah batu. Andaikan waktu itu aku bawa camera, pasti Ibu tsb udah aku photo dan aku yakin foto tsb akan menjadi cover majalah national geographic edisi bulan itu (hehehe, pede kebablasen..).

Selesai “bermain air-basah”, kami turun gunung. Tentunya, sate kelinci, menu wajib khas telaga saringan itu tak luput dari santapan kami. Karena ada diskon sate kelinci, kami imbuh. Puas berfoto-foto pun kami turun, tak lupa juga kebiasaanku setiap ke air terjun, aku selalu berwudhu di air terjun tsb (suegerr poll…).

Menjelang magrib, kami sholat ashar di mushola desa sarangan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali. Seperti juga perjalanan lainnya, waktu turun hanya membutuhkan separo dati waktu naik. Kamipun akhirnya sampai di parkiran saringan, dan siap balik ke kota genteng (bukan genteng yg di banyuwangi, tapi ‘genteng’ atap rumah). Sadar bahwa kecil kemungkinan kami bisa mengejar sholat magrib di rumah, kami pun berhenti di masjid pinggir jalan untuk menunaikan sholat magrib, baru setelah itu kami benar2 pulang ke kota genteng.

Ba’da isya’ perjalanan berlanjut. Kali ini kita melakukan ekspansi ke kota tetangga, yang jaraknya lebih dekat dari kota kita sendiri. Alun-alun sebagai pusat kota menjadi tujuan kami malam itu. Kebetulan ada yang lagi ultah, asyik nih bisa makan-makan gratis..:-D, selesai memarkir sepeda di parkir barat Alun-alun kami pun mencari-cari makan. Hmm, susah banar cari makan, smpai muter2pun kami belum dapat. Aku sih no problem…

Selesai makan bakso (akhirnya bakso juga), kami jalan2 bentar keliling alun2. Rencanyanya sih mu maen-maen, naik ombak banyu atau apa gitu.. tapi ternyata gak ada yang minat. Aku malah lebih prefer keliling madiun naik speda mtor trus langsung pulang. Ini madiun, bukan sby. Klu d sby sih gak masalah jalan2 ma cewek sampe larut malam (hehe, just kidd). Karna ijinnya ke ortu es teh cuma sampe jam 9-an, so setelah keliling kota kami langsung cabut, balik ke arah mpt.

Sampe mpt ternyata udah jam 21.30, si mewet terpaksa harus nginep di rumahnya es teh. Di perjalananan, mursal meliat 2 orang bercengkarama di teras rumah Tia, tmn kita juga. Mursal bilang, jangan2 tu tadi hera. Daripada penasaran, aku ajak aja si mursal ke rumahnya Tia, setelah dari rmhnya es teh. Ternyata benar, setelah di telp, memang hera ada di rumanya tia. Tapi yang tadi di teras bukan hera, melainkan masnya tia. Hehehe, kebetulan yang mnguntungkan, kami bisa bertemua hera dan tia sekaligus hari itu. Tidak lama di rumahnya tia kami langsung cabut, udah malam.

Tuesday, September 06, 2011

Habibie, Islam, dan Teknologi [2]: Dipaksa Boutros Boutros-Ghali Berpidato dan Terima Standing Applause

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Mantan Presiden Bacharuddin Yusuf Habibie dalam ceramahnya di Al Azhar Conference Center (ACC) di Kairo, Mesir, pada Senin (6/6), mengungkapkan bahwa ia pernah ditantang Presiden Soeharto untuk mengaktualisasi ajaran Islam. Ia juga menyatakan pernah 'dipaksa' Sekjen PBB saat itu, Boutros Boutros-Gali untuk berpidato.

Foto Prof Dr. Ing. B.J. Habibie
Tepatnya, pada 7 Desember 1994 dalam forum yang diadakan untuk memperingati Tahun Emas (Golden Jubilee) atau HUT ke-50 berdirinya Organisasi Penerbangan Sipil (The International Civil Aviation Organization/ICAO). Dalam ajang ini,  Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat, dan paling berhak menerima Medali Edward Warner Award.

ICAO didirikan di Chicago, AS, pada 7 Desember 1944, yang kemudian menjadi salah satu Badan PBB, sementara Medali Edward Warner Award yang diambil dari nama pendiri dan pemimpin pertama IACO diberikan kepada para ilmuwan dirgantara yang paling berjasa memajukan pernerbangan internasional.

Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Boutros Boutros-Ghali juga hadir dalam HUT 50 tahun ICAO tersebut.
Saat acara penyerahan Medali, Boutros-Ghali membisiki Habibie agar sedikit memberi sambutan.
Pak Habibie pun berujar,
Wah, saya tidak punya persiapan pidato sambutan, jadi tidak perlu saya pidato.

20 Tahun Linux OS : Menuju Kebebasan ber-OS

Dua puluh tahun yang lalu, 5 Oktober 1991, seorang mahasiswa sarjana (undergraduate) di University of Helsinki, Finlandia, mengumumkan sebuah karyanya. Karya tersebut tidak untuk diikutkan lomba atau sejenisnya, namun murni ingin mendapat apresiasi dan masukan dari orang-orang yang mencobanya. Dia mengumumkan di sebuah newsgroup bahwa dia telah berhasil menciptakan sebuah sistem operasi sederhana yang dikembangkan dari UNIX. Di newsgroup tersebut, dia menulis seperti ini: “Hai kalian di sana para pengguna minix – saya membuat sistem operasi bebas (hanya untuk hobi, tidak sebesar dan se-profesional GNU)…” Email tersebut disambut antusias oleh berbagai banyak orang di dunia, terlebih Linus menyertakan kode sumbernya (source code) sehingga dapat dimodifikasi dan dihasilkan sistem operasi baru ala pembuat kodenya.



Penemuan Linus tersebut melengkapi upaya RMS (Richard M. Stallman) yang sejak tahun 1983 memulai proyek GNU di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan selama kurun waktu itu pula, mentok dalam pembuatan kernel. Kernel yang merupakan inti dari sebuah sistem operasi, penghubung hardware dan software komputer, merupakan permasalahan terakhir dari proyek GNU. Kernel Linux yang kemudian dilisensikan GPL (General Public License), mensyaratkan semua program turunannya juga berlisensi GPL. Sejak itulah, bermunculan sistem operasi GNU/Linux seperti Slackware, Debian, Redhat, dan sang fenomenal: Ubuntu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...