Sunday, March 22, 2009

Adakah Self Control System?

Pada tulisan terdahulu, saya pernah memaparkan tentang konsep Self Control System disini . Tulisan saya tsb masih asal-asalan sbg seorang yang baru belajar ilmu kontrol, nah pada kesempatan ini saya akan menyampaikan langsung dari pakarnya, Adakah sistem yang mengontrol dirinya sendiri?

Sistem pengendalian mulai dari sistem mekanik, pneumatis, elektronik sampai optoelektronik dengan menggunakan algoritma mulai dari on/off, PID, Fuzzy Logic, Neural Network, dst serta berbagai strategi pengendalian baik yang adaptif maupun tidak, semuanya hanya bisa mengendalikan sesuatu yang sejajar atau lebih rendah dari sistem pengendalian itu sendiri.

Ada bagian dari sistem pengendali yang harus diterima dari pihak yang lebih tinggi. Pada sistem pengendalian satu loop yang tidak adaptif maka setpoint dan tuning/setting harus diberikan oleh manusia, dan pada sistem yang adaptif hanya setpoint saja yang harus diberikan, karena tuning pengendali akan dilakukan sendiri oleh sistem pengendali sesuai dengan kondisi/karakteristik plant.

Tanpa setpoint yang benar maka semua usaha pengendali, walaupun terbaca error sama dengan nol tetap saja tidak ada artinya, karena kebenaran yang didapat belum tentu sama dengan kebenaran yang diharapkan pada sistem yang lebih tinggi.

Pada sistem real tak ada sistem yang hanya terdiri dari satu loop, multiloop yang saling berinteraksi secara kompleks. Terkadang setpoint suatu loop datang dari loop yang lain disebut pengendalian cascade, terkadang dia membantu loop lain terhadap ganguan untuk mempertahankan kondisi sesuai setpoint disebut pengendali feed forward, terkadang dia berbagi output untuk mempertahankan sebuah setpoint disebut pengendali split range dan ada yang berbagi perbandingan pengukuran berdasarkan setpoint disebut pengendali rasio...

Sunday, March 01, 2009

Pendakian Gunung Welirang

Beberapa bulan yang lalu ku lakukan lagi sebuah perjalanan. Tidak berapa lama setelah perjalan mengelilingi Lumajang. Perjalanan mengunjungi tetangga G. Arjuna, yakni G Welirang. Simak saja cerita temanku tentang perjalanan itu:
(sebenarnya pengen cerita sendiri, eh ternyata udah ada temanku yang nulis cerita perjalanannya, ya copas aja lebih mudah....:-) )
Berfoto di Pos Ijin Pendakian Gunung Welirang, Tretes
Here is the story...
Siapa yang menyangka, gunung yang 4 tahun lalu mengajariku berbagai macam hal untuk menjadi seorang pecinta alam, menjadi gunung yang pertama kudaki hingga ke puncaknya ini sekarang tak lebih dari sebuah onggokan batu besar yang menjulang tinggi tanpa arti. Bagi para pecinta alam, pendaki khususnya, pesona gunung ini telah hilang. Takkan ada lagi kesan yang mendalam saat kita sudah mencapai puncaknya.

Bagaimana tidak, 4 tahun terakhir ini aktivitas penambangan belerang di puncaknya telah membuat gunung ini bukanlah lagi menjadi tujuan utama para pendaki. Perlu diketahui, ini hanya akan kita temukan saat kita memulai pendakian melalui Pos Tretes. Lain halnya, jika kita ke Arjuna dulu via Lawang, Cangar, ataupun Purwosari, kemudian turun hingga ke Pondokan lalu ke Welirang. Atau dari puncak Arjuna melewati 2 puncak G. Kembar I dan G. Kembar II langsung ke Puncak Welirang. Kita tidak akan melihat fenomena yang membuat hati para pecinta alam menjadi miris.
Puncak Welirang tampak dari Kokopan

Dari Pos Perizinan Tretes, jalur yang kita lalui hingga ke Kokopan adalah jalur yang biasanya dipakai Jeep untuk mengambil belerang. Itu 4 tahun yang lalu. Namun, 2 tahun belakangan jalur ini diperpanjang hampir mendekati Pondokan, yaitu sekitar Watu Gede dan yang lebih mirisnya, para penambang dengan seenaknya membuat pemukiman baru sedikit di atas Kokopan. Jalur ini bagi para pendaki jelas cukup menyiksa, terlebih-lebih yang baru pertama kali ke sini. Dengan jalur yang terdiri dari batu-batu yang telah disusun rapi, jalur ini dapat memberikan efek yang sangat sakit bila dirasakan para pendaki, apalagi jika digunakan untuk turun. Dan rencananya jalur ini akan diperpanjang hingga Pondokan. Jelas ini suatu hal yang membuat kita prihatin, karena 2/3 jalur pendakian kita hanya akan melihat sebuah alam yang rusak. Dan jalur pendakian yang tidaklah alami seperti jalur pendakian gunung-gunung lainnya.

Ringan bagi para penambang, berat bagi para pecinta alam. Karena para penambang tidak perlu lagi bersusah payah menuruni gunung dengan membawa sekarung belerang hingga ke Kokopan. Sedangkan bagi para pendaki, apalagi yang belum tahu.
Berkumpul Bersama Pendaki Lain di Pos Terakhir
Di Puncak Welirang, Tandus
Belum lagi di puncaknya. Konon ada yang mengatakan titik tertinggi gunung ini baru saja longsor, karena sebuah ledakan belerang. Dipikir secara nalar, bisa kita katakan iya, karena di bawah puncak itulah terdapat aktivitas penambangan yang sudah berlangsung sejak lama.

Untuk menghentikan aktivitas penambangan inipun dirasa tidak mungkin. Bagi penduduk Tretes, mungkin hanya inilah pekerjaan yang paling mudah bisa mereka lakoni. Hanya dengan modal fisik saja, pekerjaan ini tidaklah terlalu sulit. Meskipun pendapatannya tidak sesuai dengan kerja keras mereka. Karena untuk 1 kg belerang saja harganya kurang dari Rp. 1000,-. Hingga terkadang, jika ada pendaki yang sedang sial, mereka bisa jadi korban pencurian atau pemalakan.

Yang patut disesali, kenapa tidak ada tindakan dari pihak yang bertanggung jawab lebih untuk masalah ini? Buat apa adanya papan yang bertuliskan daerah yang dilindungi oleh Dinas Kehutanan? Dan buat apa adanya pungutan saat ada yang ingin camping atupun mendaki ke Gunung Arjuna dan Welirang jika tidak ada perubahan?

Well, that's the story, lagi males banget nulis. Dan kurasa tulisan temanku diatas cukup mewakili cerita perjalanku itu. Silakan explore gambar-gambarnya untuk referensi sebelum mendai Gunung Welirang.
 

Beres-bers tenda sebelum Turun Gunung
Turun dari Gunung Welirang

Salam Lestari,
Ninth

Salam Speech at Nobel Banquet

Pada perjamuan Nobel 1979, Prof. Abdus Salam memberikan sambutannya sebagai berikut:
Your Majesties, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
On behalf of my colleagues, Professor Glashow and Weinberg, I thank the Nobel Foundation and the Royal Academy of Sciences for the great honour and the courtesies extended to us, including the courtesy to me of being addressed in my language Urdu.
Pakistan is deeply indebted to you for this.
The creation of Physics is the shared heritage of all mankind. East and West, North and South have equally participated in it. In the Holy Book of Islam, Allah says
"Thou seest not, in the creation of the All-merciful any imperfection, Return thy gaze, seest thou any fissure. Then Return thy gaze, again and again. Thy gaze, Comes back to thee dazzled, aweary." This in effect is, the faith of all physicists; the deeper we seek, the more is our wonder excited, the more is the dazzlement for our gaze...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...